Wacana Pemindahan Ibu Kota Batola

Hari Jadi Batola dan Wacana Pemindahan Ibu Kota

Sembilan orang penari beraksi dengan lincah di bawah sinar matahari yang tidak terlalu terik pagi itu. Diiringi alunan musik tradisional, gerak mereka sesekali menghentak, membentuk formasi, hingga beratraksi dengan tikar purun dan cupikan/lanjung. Membuat semua mata tertuju pada mereka.

Sembilan orang tersebut berasal dari Sanggar Permata Ije Jela yang tampil sebagai pembuka pada perayaan Hari Jadi Kabupaten Barito Kuala ke-63 di halaman kantor bupati di Marabahan (05/01/2023). Membawakan Tari Baihik yang menggambarkan proses melepaskan bulir padi dari tangkainya. Hal ini sebagai refleksi Kabupaten Barito Kuala (Batola) yang dikenal sebagai lumbung padi di Kalimantan Selatan.

Sejak pagi, suasana halaman kantor bupati sudah semarak. Teras Aula Selidah disulap menjadi panggung indah dengan berbagai dekorasi. Tenda dan kursi telah berdiri. Begitupun dengan karangan bunga yang berjejer di sepanjang jalan menuju tempat berlangsungnya acara.

Turut hadir Gubernur Kalimantan Selatan, Pj Bupati Barito Kuala, Para Bupati, Forkopimda, para kepala dinas, alim ulama, tokoh masyarakat, dan tamu undangan. Acara mulai sekitar pukul 10 pagi dan berakhir sekitar pukul 12 siang.

Wacana Pemindahan Ibu Kota Batola Kembali Bergema

Pemindahan Ibu Kota Batola
Kantor Bupati Barito Kuala di Marabahan

Masih dalam suasana perayaan Hari Jadi, media sosial nampak ikut ramai. Banyak ucapan selamat serta foto dan video kemeriahan perayaan Hari Jadi. Namun ada satu hal lagi yang juga ikut meramaikan bahkan jadi perdebatan. Yaitu wacana pemindahan Ibu Kota Batola dari Marabahan ke Kecamatan Alalak.

Wacana pemindahan ibu kota Batola muncul setelah unggahan M. Rifqinazamy Karsayuda (MRK) di akun instagram pribadinya, @bang.rifqi.mrk. Video berdurasi 1.39 detik itu memperlihatkan anggota DPR RI ini ketika sedang berbicara di hadapan orang-orang tentang mimpinya terhadap Kecamatan Alalak. Mulai dari keinginan agar nantinya Simpang 4 Handil Bakti dapat menjelma layaknya Bundaran HI di Jakarta sampai yang paling panas, pemindahan ibu kota ke Alalak.

Pernyataan tersebut sontak menjadi sorotan publik. Terlebih lagi orang yang menyampaikannya adalah seorang wakil rakyat (read: anggota DPR RI).

Pemberitaannya di media online dan cetak dengan cepat banyak bermunculan. Sejumlah tokoh mulai dari mantan bupati, anggota dewan, tokoh masyarakat, hingga akademisi pun bereaksi. Di media sosial, pro kontra terhadap wacana ini tak terhindarkan.

Menelusuri Jejak Sang Dewan

Postingan MRK di akun instagramnya (@bang.rifki.mrk)

Saya kemudian mencari video tersebut dan menontonnya berulang kali. Saya berusaha memahami setiap kata yang beliau sampaikan. Sayangnya video tersebut berdurasi pendek dan hanya berupa potongan video. Sehingga saya kesulitan mencari konteks dan asal muasal beliau membuat pernyataan untuk memindahkan ibu kota.

Berhubung saya tak mendapatkan video utuhnya, maka saya memberikan pendapat berdasarkan potongan video itu saja. Lagipula potongan video tersebut diunggah langsung di akun instagram yang bersangkutan. Bukan dipotong oleh orang lain yang rawan salah paham. Saya kira beliau sudah memperhitungkan kelayakan video tersebut. Dan inilah pendapat saya.

Pertama, beliau mengatakan punya mimpi bahwa suatu saat ibu kota Batola akan pindah ke Alalak. Nah di sini sebenarnya jelas ya bahwa wacana pemindahan tersebut baru sebatas keinginan (atau khayalan) pribadi beliau saja.

Berbeda cerita kalau beliau sebagai anggota dewan sudah mengusulkan pemindahan tersebut. Meskipun di video tersebut beliau mengatakan telah meminta para arsitek di Kalsel untuk merancang Alalak sebagai ibu kota masa depan. Namun kita masih belum tahu sejauh mana realisasinya. Lagipula pemindahan ibu kota harus melalui proses panjang dulu, tidak bisa seenaknya saja, kan.

Sebagai masyarakat apalagi anggota dewan di Senayan, saya kira sah-sah saja beliau mengatakan demikian. Tidak ada yang melarang. Toh pemindahan ibu kota bukanlah sesuatu yang tabu atau harga mati.

Pemindahan ibu kota belakangan ini memang beberapa kali terjadi. Sebut saja pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke IKN di Kalimantan Timur dan pemindahan ibu kota Kalimantan Selatan dari Banjarmasin ke Banjarbaru. Nah mungkin beliau ingin menambah daftar tersebut dengan memindahkan Ibu Kota Barito Kuala dari Marabahan ke Alalak. Namun kembali lagi bahwa wacana tersebut adalah impian beliau ke depannya.

Kedua, beliau berbicara di hadapan masyarakat Alalak. Hal ini saya simpulkan dari spanduk yang ada di ruangan tersebut yang bertuliskan Aula Kecamatan Alalak. Saya asumsikan orang-orang yang ada di sana juga kebanyakan warga Alalak.

Oleh karena itu wajar jika beliau membuat pernyataan yang berusaha memuji Kecamatan Alalak sebagai kecamatan yang punya karakteristik perkotaan. Karena itu (suatu saat) layak menjadi ibu kota kabupaten. Mungkin niat beliau ingin membuat tuan rumahnya merasa bangga.

Hanya saja karena pernyataan tersebut disebar ke publik oleh beliau sendiri, maka tidak bisa juga menyalahkan jika publik bereaksi. Seandainya pernyataan tersebut hanya disampaikan di forum itu saja, tentu tidak ada yang mempermasalahkan.

Ibu Kota dan Sejarah Yang Dikandungnya

Pemindahan Ibu Kota Batola
Tugu 5 Desember sebagai pengingat perjuangan rakyat Marabahan meraih kemerdekaan

Menurut KBBI, ibu kota adalah tempat kedudukan pusat, pemerintahan suatu negara, tempat dihimpun unsur administratif (eksekutif, legislatif, dan yudikatif); kota yang menjadi pusat pemerintahan. Dalam pengertian ini, ibu kota tak lebih dari sekadar tempat berkumpulnya kantor-kantor pemerintah.

Namun jika kita melihat dengan kacamata yang lebih filosofis, maka ibu kota punya makna yang mendalam. Sesuai namanya, ibu kota menggunakan diksi “ibu” yang dalam KBBI punya beberapa arti. Salah satunya adalah sebutan untuk wanita yang telah melahirkan seorang anak.

Sebagaimana kita ketahui bahwa melahirkan hanya mampu dilakukan seorang perempuan. Mulai dari mengandung sampai melahirkan merupakan proses panjang yang menyakitkan dan melelahkan. Dari sini terlihat bagaimana jasa besar seorang ibu.

Jika kita kaitkan dengan diksi selanjutnya yaitu “kota” sehingga menjadi “ibu kota” maka kurang lebih punya arti sebagai kota yang telah berjuang lama untuk mengandung sampai melahirkan seorang “anak”. Dalam hal ini, “anak” dapat berarti negara, provinsi, atau kabupaten.

Jakarta misalnya layak menyandang gelar sebagai ibu kota karena di kota itulah teks proklamasi dirumuskan dan dibacakan. Serta banyak peristiwa penting dan besar lainnya pada masa perjuangan kemerdekaan yang terjadi di sana. Sehingga melahirkan “seorang anak” bernama Indonesia.

Walaupun bukan berarti daerah lain tidak melakukan perjuangan. Hanya saja kita dapat melihat di kota mana yang punya sejarah penting dalam lahirnya sebuah negara dalam konteks ini.

Begitupun dengan Marabahan. Kalau kita melihat sejarahnya kembali, maka Marabahan menjadi pusat perjuangan para pahlawan dulu. Rumah Bulat yang terletak di tepian Sungai Barito menjadi salah satu saksi bisunya.

Salah satu peristiwa penting terjadi pada 5 Desember 1945. Kala itu rakyat Marabahan bangkit melawan dengan melakukan penyerangan terhadap penjajah untuk mengambil alih kekuasaan. Hingga akhirnya Marabahan menjadi tempat di Barito Kuala yang pertama kali mengibarkan bendera merah putih dan memproklamirkan diri sebagai bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tiang bendera tersebut bahkan masih ada hingga sekarang.

Oleh karena itu ibu kota punya arti penting bagi suatu daerah. Penetapan ibu kota menjadi salah satu cara menghargai dan mengingat sejarah. Bukan sekadar bangunan fisik tempat “nongkrongnya” kantor-kantor pemerintahan.

Baca Juga: Karya Seni, Apresiasi, dan APBD

Dinamika Sebuah Ibu Kota

Pemindahan Ibu Kota Batola

Perlu kita akui bahwa aspek sejarah pada sebuah kota tidak selamanya dapat menjadi satu-satunya pertimbangan dalam menentukan ibu kota. Aspek sejarah memang nampaknya lebih kaku. Kita tak bisa mengotak-atiknya lagi.

Di sisi lain, kehidupan terus berjalan dan dinamika di masyarakat terus terjadi. Oleh karena itu perlu ada pertimbangan lainnya yang bisa menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Pertimbangan itu yang pertama, pemindahan ibu kota harus dilihat dari ada atau tidaknya urgensi atau kegentingan. Misalnya sebuah kota sering terjadi bencana alam atau konflik sosial sehingga berpotensi membahayakan kepala daerah atau para pejabatnya. Dalam hal ini terpenuhi kondisi kegentingan untuk memindahkan ibu kota ke tempat yang lebih layak untuk menyelenggarakan pemerintahan. Meskipun juga harus mempertimbangkan aspek lainnya.

Lalu bagaimana dengan Marabahan? Apakah ada kegentingan yang membuat ibu kota harus pindah? Apakah Marabahan sudah tidak layak menjadi ibu kota? Nah pertanyaan semacam inilah yang harus dijawab secara terang benderang sebelum melakukan pemindahan ibu kota.

Pertimbangan selanjutnya adalah apa tujuan pemindahan ibu kota. Apakah tujuan tersebut sebanding atau kalau bisa lebih besar manfaatnya dari dana yang akan dikeluarkan.

Pada kasus Banjarmasin misalnya. Kita lihat dari aspek sejarah maka Banjarmasin layak menjadi ibu kota. Ini tidak perlu diragukan lagi. Begitupun dengan kondisi alam dan sosialnya juga membuat Banjarmasin masih layak menjadi ibu kota.

Namun pada akhirnya Banjarmasin harus merelakan statusnya sebagai ibu kota beralih ke Banjarbaru. Dari yang saya ketahui pemindahan tersebut bertujuan untuk memaksimalkan pembangunan di Kalsel (katanya begitu). Begitupun dengan pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan yang salah satu tujuannya juga untuk pemerataan pembangunan agar tidak hanya terpusat di Pulau Jawa.

Pertimbangan lainnya adalah kemampuan pendanaan. Mengingat memindahkan ibu kota tidak semudah pindah rumah. Perlu ada pembangunan yang banyak seperti gedung pemerintahan, fasilitas publik, dan infrastruktur yang memadai. Semua itu tentunya memerlukan biaya besar.

Kembali lagi kita bertanya, apakah Pemerintah Kabupaten Barito Kuala sanggup membiayai itu semua? Sementara di sisi lain masih banyak infrastruktur penting yang belum bisa dibangun karena keterbatasan dana.

Kalau ada yang mau memindahkan ibu kota, tanyakan saja: “dari mana uangnya????”

Masih banyak pertimbangan lainnya dalam pemindahan ibu kota. Misalnya pertimbangan geografis, kesiapan masyarakat, dampak lingkungan, dan sebagainya.

Intinya pemindahan ibu kota tidak bisa kujuk-kujuk seperti orang mau pindah tempat kos. Tidak pula cukup hanya dengan retorika yang disampaikan di sebuah aula.

Rekomendasi: Belajar Desain dan Digital Marketing dalam Satu Platform

Jangan Gegabah Mau Pindah

Saya tidak termasuk orang yang anti pemindahan ibu kota. Menurut saya pemindahan ibu kota sangat mungkin terjadi. Tergantung kebutuhan dan kesepakatan masyarakat serta punya alasan kuat.

Hanya saja perlu kita ingat bahwa pemindahan ibu kota hendaknya dilakukan dengan hati-hati dan pertimbangan matang. Jangan gegabah mau pindah apalagi jika hanya untuk kepentingan politis semata.

Kasihan masyarakat jika harus terlibat konflik dengan sesama saudara hanya karena pemindahan ibu kota. Lebih baik energi tersebut kita arahkan pada hal-hal yang memang kita perlukan sekarang.

Kalau kamu, apakah setuju dengan pemindahan ibu kota Batola ke Alalak?

0Shares
Muhammad Noor Fadillah

Menyelesaikan pendidikan S1 Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Memiliki ketertarikan di bidang manajemen, marketing, dan penulisan. Suka menulis berbagai hal. Mulai dari sastra, jurnalistik, ekonomi, bisnis, dan marketing. Telah menerbitkan 2 buku, 1 ebook, dan banyak tulisan lainnya yang tersebar di koran, media online, blog, dan platform lainnya.

Satu Komentar

  • Avatar
    Rijali Hadi

    Pemindahan ibu kota yg sekarang ini sudah banyak di dengar dan salah satunya adalah ibu kota provinsi yg asalnya di kota Banjarmasin berpindah ke kota baru, pemindahan ini yg saya ingat dan yg saya baca di slah satu berita bahwa sudah sangat lama menginginkan kan untuk pemindahan kota provinsi, Yaa sampai sekarang pun kota Banjarmasin Masih layak di untuk menjadi ibu kota provinsi karena kaya akan sejarah, yg sudah di jelaskan jelas pemindahan ini karna kependudukan dan kepadatan insfratruktur yg sudah sangat padat, jadi Banjarmasin tetap lah Banjarmasin walaupun sudah tidak jadi ibu kota lagi.

    untuk pemindahan ibu kota Marabahan ke Alalak, saya tidak banyak komen, akan tetapi bisa saja terjadi di kemudian hari dengan berbagai persiapan yg sangat matang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *