Ketahanan Pangan Keluarga

Mewujudkan Ketahanan Pangan Keluarga Dengan Pertanian Berbasis Rumah Tangga

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan beberapa waktu lalu membuat pernyataan yang sempat menjadi sorotan publik. Ia meminta masyarakat menanam cabai dan bawang merah di rumah masing-masing untuk menekan inflasi. Pernyataan itu ia sampaikan pada Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah pada Selasa (30/8/2022) yang dapat dipantau secara daring melalui kanal YouTube Kemendagri RI.

Pernyataan Menko Marves tersebut menuai kritik dari masyarakat khususnya netizen di media sosial. Sebagian menyebut pernyataan tersebut terkesan mengalihkan tanggungjawab negara kepada masyarakat. Atau dengan kata lain, masyarakat disuruh menyelesaikan sendiri masalahnya.

Pernyataan serupa dulu juga pernah dilontarkan Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita. Ia meminta masyarakat menanam cabai sendiri sebagai jalan keluar dari kenaikan harga yang tinggi.

Pernyataan kedua menteri tersebut sebenarnya tidak salah. Kalau ditelaah lebih dalam, ide agar masyarakat menanam cabai sendiri merupakan suatu hal yang baik karena bisa melindungi masyarakat dari kenaikan harga cabai yang sering terjadi.

Namun yang menjadi masalah sehingga menimbulkan perdebatan adalah karena timing atau waktu penyampaian pernyataan tersebut yang tidak tepat. Bayangkan saja, ketika banyak orang merasa tercekik dengan kenaikan harga, tiba-tiba pemerintah mengatakan demikian sehingga kesannya pemerintah tidak mau bertanggungjawab. Pemerintah memberikan soluasi yang harus dilakukan masyarakat sendiri. Padahal masyarakat sudah pusing dengan banyak masalah lainnya. Semakin parah karena pernyataan semacam ini sudah beberapa kali disampaikan pemerintah.

Ketika terjadi kenaikan harga, sebenarnya masyarakat menunggu kehadiran negara sebagai pelindung mereka. Andaikan pernyataan tersebut disampaikan bukan pada situasi kenaikan harga, saya kira tidak akan menimbulkan reaksi negatif dari sebagian masyarakat bahkan dapat diterima dengan baik.

Harga Cabai Semakin Pedas

Kenaikan harga cabai di Indonesia sudah bukan menjadi hal asing lagi. Meskipun dikenal sebagai negara agraris dengan tanah yang subur, kenaikan harga pada sejumlah komoditas pangan masih menjadi hantu yang terus menggentayangi masyarakat. Salah satu penyebabnya karena anomali cuaca yang berpengaruh terhadap hasil panen petani.

Kenaikan harga pangan khususnya cabai tentu membawa dampak buruk. Terlebih lagi cabai menjadi komoditas yang sulit lepas dari dapur masyarakat kita. Hal ini karena mayoritas orang Indonesia menyukai makanan pedas (solopos.com, 2020).

Kenaikan harga cabai juga mempengaruhi tingkat inflasi. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, inflasi pada Juni 2022 sebesar 0,61% secara bulanan dan 4,35% secara tahunan. Kenaikan harga sejumlah pangan utama seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah menjadi penyebab terbesar kenaikan inflasi. Harga cabai merah tercatat melonjak ke Rp73,88 ribu per Kg pada Juni. Kenaikan harga tersebut berkontribusi terhadap inflasi pada Juni sebesar 0,34%.

Bulan selanjutnya, Badan Pusat Statistik mengumumkan inflasi Juli 2022 sebesar 0,64% secara bulanan dan 4,94% tahunan. Besaran ini melebihi batas inflasi yang ditargetkan pemerintah. Lagi-lagi, cabai merah berada pada urutan teratas sebagai penyumbang inflasi dengan andil sebesar 0,15%.

Data-data di atas semakin menyadarkan dan meyakinkan kita untuk segera mengatasi permasalahan cabai agar tidak membawa dampak yang lebih buruk. Ditambah lagi dengan isu krisis pangan yang diperkirakan akan melanda dunia. Nah, salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan menaman cabai berbasis rumah tangga.

Harga Kebutuhan Serba Naik, Saatnya Skill Desainmu Juga Naik. Belajar di sini

Tempat Kursus Digital Termurah dan Terlengkap. Belajar di sini

Mewujudkan Ketahanan Pangan Keluarga

Cabai yang pernah ditanam penulis menggunakan sistem hidroponik di belakang rumah

Ketahanan pangan menurut Undang-Undang Nomor 18 tahun 2012 adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Tak dapat dibantah, ketahanan pangan amat penting bagi sebuah negara karena menyangkut kebutuhan dasar banyak orang. Selain tugas Pemerintah, menciptakan ketahanan pangan juga dapat diwujudkan oleh unit terkecil dalam masyarakat yaitu keluarga.

Berkaitan dengan ketahanan pangan keluarga, sejak 2010 pemerintah telah meluncurkan program P2L atau Pekarangan Pangan Lestari. Program ini dilaksanakan dengan memanfaatkan lahan pekarangan, lahan tidur dan lahan kosong yang tidak produktif sebagai penghasil pangan dalam memenuhi pangan dan gizi rumah tangga. Tidak hanya cabai, masyarakat juga dapat menanam tanaman pangan lainnya. Nantinya masyarakat juga akan diberi pelatihan cara mengembangkan bibit tanaman, perawatan, hingga pemasarannya.

Manfaat yang diharapkan dari program ini yaitu membantu dalam pemenuhan pangan dan gizi keluarga, meningkatkan perekonomian/pendapatan keluarga, baik karena penghematan ataupun penjualan hasil panen, dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penanganan rawan pangan dan gizi (dkp.bogorkab.go.id, 2020). Selain itu, keluarga yang bercocok tanam juga dapat menjadi sarana edukasi bagi anak-anak dalam keluarga. Lebih jauh, kemampuan tiap-tiap keluarga menyediakan pangan sehat dan bergizi secara mandiri dapat mengurangi potensi terjadinya stunting pada anak-anak yang sekarang sedang banyak terjadi.

Bagi para ibu rumah tangga, bertani tanaman pangan di pekarangan rumah dapat dilakukan di waktu senggang mereka. Perawatannya pun relatif tidak terlalu sulit. Terlebih masyarakat yang tinggal di pedesaan umumnya masih memiliki pekarangan atau lahan yang luas dan belum tergarap maksimal.

Adapun bagi masyarakat di kota yang cenderung tidak punya lahan luas, masih bisa bertanam dengan sistem hidroponik, polybag, dan sebagainya. Sehingga bisa dikatakan program semacam ini realistis untuk dijalankan.

Pandemi covid-19 yang terjadi sebelumnya telah memunculkan tren bertani di pekarangan rumah. Hal ini karena banyaknya orang yang tidak dapat melakukan aktivitas di luar rumah sehingga mengalihkan kegiatannya dengan bertani. Kemudian adanya kenaikan harga komoditas dapat menjadi momentum untuk semakin mengajak masyarakat agar mau bertani di pekarangan rumah masing-masing.

Meski demikian, tidak dipungkiri jika memang tidak semua keluarga dapat menjalankan program ini. Sehingga pemerintah nantinya tidak perlu memaksakan kepada semua keluarga. Fokus saja pada mereka yang potensial mampu menjalankannya.

Baca Juga: Media Sosial dan Keinginan Untuk Membatasi Keinginan

Selain masyarakat, para pegawai pemerintah juga dapat menjadi sasaran dari program ini terutama dari instansi terkait. Mereka lebih mudah diarahkan serta harusnya punya kesadaran yang lebih tinggi sehingga dapat menjadi contoh dan pelopor bagi masyarakat sekitar.

Seperti yang baru-baru ini dilakukan Pemprov Kalimantan Selatan. Pada Senin (24/10/2022), Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalsel membagikan 10 ribu bibit cabai kepada PPPK, ASN dan tenaga kontrak lingkup Pemprov Kalsel. Tujuan dari program ini juga untuk menekan inflasi akibat kenaikan harga cabai (koranbanjar.net, 2022).

Meskipun masyarakat diajak menanam tanaman pangan, jangan sampai dilupakan para petani itu sendiri. Merekalah garda terdepan dalam ketahanan pangan. Berbagai program untuk membantu petani seperti penyediaan bibit unggul, subsidi pupuk, pendampingan, mendorong inovasi teknologi pertanian, dan sebagainya harus terus dilakukan secara berkelanjutan.

Membangun ketahanan pangan keluarga dan menggairahkan kembali perekonomian pasca pandemi, kita harapkan dapat tercapai dengan sinergitas pemerintah, petani, dan disokong masyarakat. Semoga ke depannya kita lebih kuat menghadapi kenaikan harga pangan yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

0Shares
Muhammad Noor Fadillah

Menyelesaikan pendidikan S1 Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Memiliki ketertarikan di bidang manajemen, marketing, dan penulisan. Suka menulis berbagai hal. Mulai dari sastra, jurnalistik, ekonomi, bisnis, dan marketing. Telah menerbitkan 2 buku, 1 ebook, dan banyak tulisan lainnya yang tersebar di koran, media online, blog, dan platform lainnya.

4 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *