Media Sosial dan Keinginan

Media Sosial dan Keinginan Untuk Membatasi Keinginan

Beberapa waktu yang lalu, kami kedatangan tamu. Mereka adalah teman lama ibu saya ketika sekolah. Selama pertemuan itu, banyak pembicaraan mengenai bagaimana kehidupan mereka masing-masing. Hal ini wajar lantaran mereka sudah berpuluh tahun tidak bertemu sejak berpisah di bangku sekolah.

Bertanya tentang kehidupan mereka sekarang seperti tinggal di mana, bekerja di mana, punya anak berapa, dan sebagainya, adalah hal lumrah. Selama berpisah, di antara mereka ada yang memang benar-benar “hilang dari peredaran”. Tidak diketahui bagaimana keadaannya. Sehingga tidak heran ketika mereka bisa reuni kecil-kecilan seperti itu, semua saling berbagi cerita.

Saya kemudian terpikir satu hal. Sepertinya akan sedikit berbeda dengan kita sekarang yang hidup dalam pengaruh besar media sosial. Meskipun lama tidak bertemu dengan teman-teman, bukankah kita masih tahu perkembangannya. Kita mungkin tahu ia bekerja di mana, sudah menikah atau belum, tempat tinggalnya sekarang, tempat kuliah dan jurusannya, bahkan tahu nama anaknya sekalipun (jika sudah punya). Semua dapat dengan mudah dilacak, terlebih bagi mereka yang memang senang tampil di media sosial. Kecuali mereka yang tidak menggunakan media sosial atau memang menutup rapat informasi pribadinya.

Pertanyaan “kamu kerja di mana?” atau semacamnya, bisa jadi sudah tidak relevan lagi untuk diucapkan karena kita lebih dulu mengetahuinya melalui media sosial. Kalaupun mau ditanyakan, paling-paling hanya sebagai basa basi membuka percakapan.

Media Sosial Membuat Manusia Tetap Terhubung

Media Sosial dan Keinginan Tetap Terhubung dengan Teman
(sumber: pexels.com)

Media sosial yang hadir dengan berbagai macam fitur, akses internet yang semakin mudah, ditambah daya pikatnya yang tinggi, membuat sebagian dari kita menjadikan media sosial sebagai “makanan” yang selalu disantap tiap harinya. Arus informasi termasuk informasi tentang teman-teman akan senantiasa mengalir dengan derasnya kepada kita meskipun secara fisik terpisah amat jauh dan dalam waktu yang lama.

Dampak positif hal di atas membuat kita masih bisa terhubung dengan teman-teman lama. Yaa walaupun mungkin sekadar saling memberi like postingan atau melihat story IG. Namun setidaknya masih terjalin interaksi.

Laporan We Are Social pada Februari 2022, dikutip dari dataindonesia.id, mengungkapkan alasan orang Indonesia menggunakan media sosial. Hasilnya menunjukkan sebanyak 58% responden yang diteliti menggunakan media sosial karena ingin tetap terhubung dengan teman dan keluarga. Hasil ini adalah yang paling besar dibandingkan alasan lain seperti untuk mengisi waktu luang ataupun mengetahui apa yang sedang dibicarakan.

Jadi memang benar ya bahwa banyak dari kita tujuan utama menggunakan media sosial adalah agar tetap terhubung dengan teman. Sekalipun bukan itu tujuan utamanya, tapi silakan saja cek, pasti akun media sosial kita banyak mem-follow teman-teman kita juga kan?

Nah, agar tetap terhubung dengan teman, tentunya kita jadi sering melihat postingan atau fitur Story teman kita. Bukan hanya saling follow saja. Sementara yang sering diposting teman kebanyakan adalah pencapaian, keberhasilan, atau minimal aktivitas mereka.

Di sisi lain, dengan mengetahui pencapaian atau aktivitas teman-teman kita tadi, tak jarang memunculkan adanya keinginan seperti kehidupan orang yang dilihat. Misalnya kita jadi punya keinginan untuk berlibur ke suatu tempat setelah melihat teman kita ada yang berlibur ke sana. Atau ingin membeli suatu barang setelah melihat teman kita memakainya, yang semua itu terpampang jelas di media sosial. Ada yang pernah mengalaminya? 🙂

Ditambah lagi, di sekolah dulu kita seolah dikondisikan untuk berkompetisi dengan teman sekelas. Kalau si A rangking 1, ada sebagian yang lain akan berusaha keras agar bisa mengalahkan si A dan menjadi rangking 1. Suasana seperti ini terjadi selama bertahun-tahun. Maka bisa saja kompetisi semacam itu terus berlanjut hingga kehidupan pasca sekolah. Ketika si A sudah sukses, ada rasa di sebagian orang untuk tidak mau kalah.

.

Membatasi Keinginan

Media Sosial dan Keinginan
(sumber: pexels.com)

Punya keinginan adalah hal yang wajar. Keinginan manusia memang tidak ada habisnya dan terkadang dapat muncul dengan tiba-tiba, bahkan sesimpel melihat postingan di media sosial. Misalnya ketika berselancar di media sosial kemudian ada yang memposting mie ayam. Kita yang sebelumnya tak kepikiran membeli mie ayam, akhirnya ingin membeli. Semudah itu memang keinginan muncul.

Hanya saja, keinginan yang muncul dari media sosial sangat perlu untuk disaring. Tidak semua hal yang terlihat menarik harus menjadi keinginan kita. Hidup dengan terlampau banyak keinginan malah membebani hidup karena harus berusaha keras memenuhi semua keinginan yang sebenarnya belum tentu dibutuhkan. Belum lagi kalau keinginan tersebut nyatanya tidak pernah tercapai sehingga harus menelan kekecewaan.

Satu hal yang juga harus diwaspadai adalah ketika keinginan tersebut malah membuat kita melakukan perbandingan diri sendiri dengan orang lain yang pada akhirnya merasa rendah diri. Kalau kata anak muda sekarang; insecure. Sayangnya, hal ini telah banyak terjadi.

Misalnya kita ingin punya rumah pribadi karena melihat teman-teman yang sudah memilikinya. Namun kemudian keinginan tersebut disadarkan oleh fakta bahwa hal itu sulit kita capai. Mungkin karena penghasilan yang belum seberapa atau ada hal lain yang harus diprioritaskan. Akhirnya muncul pikiran semacam ini:

“Enak ya kalau bisa seperti si Anu. Dia sudah bisa punya rumah. Sementara aku, jangankan beli rumah, untuk keperluan sehari-hari saja masih kurang…..” dan seterusnya.

Akhirnya tujuan menggunakan media sosial untuk tetap terhubung dengan teman malah menambah beban. Sangat disayangkan, bukan?

Kenali Diri dan Ajak Bicara Keinginan

Media Sosial dan Keinginan
(sumber: pexels.com)

Ada banyak cara mengatasi perilaku ingin mengikuti orang lain atau membanding-bandingkan diri. Salah satunya dengan mengatur keinginan. Prinsipnya adalah bahwa tidak semua pencapaian orang lain harus menjadi keinginan kita. Dan tidak perlu iri juga terhadap pencapaian orang lain. Agar hal ini bisa lebih mudah terwujud, maka kita harus kenal dulu dengan diri kita sendiri. Karena dengan mengenal diri sendiri, kita tidak akan mudah iri atau membanding-bandingkan hidup dengan orang lain.

Kita bisa mengambil pelajaran dari sebuah buku pengembangan diri yang menarik. Judulnya You Do You yang ditulis Fellexandro Ruby. Salah satu poin penting dalam buku tersebut adalah pentingnya untuk kita mengenal diri sendiri. Karena dengan mengenal diri sendiri, kita tidak mudah terpengaruh dengan kemilau “rumput tetangga” yang kian subur (pencapaian orang lain, teman, atau orang terdekat).

Salah satu kalimat menarik di awal buku ini:

“ketika gue paham diri, maka gue menjadi semakin sadar diri. Pilihan yang gue ambil tidak harus sama dengan tetangga. Meniru, membandingkan, hingga perasaan iri yang tumbuh rasanya semakin tidak ada gunanya. Siapa gue dan siapa yang gue mau itu berbeda dengan teman-teman gue.”

Banyak hal dalam buku tersebut yang ditulis berdasarkan pengalaman. Ia menceritakan beberapa keinginannya yang terwujud tetapi pada akhirnya sadar bahwa keinginan tersebut tidak terlalu ia butuhkan. Misalnya memiliki mobil mewah yang kemudian ia jual karena tidak suka menyetir. Mobillitasnya masih bisa dilakukan dengan menaiki MRT. Bahkan dengan begitu, ia mampu mengumpulkan 10.000 langkah yang membuatnya lebih sehat dibandingkan menaiki mobil mewah.

Baca: Cara Mengelola Keuangan Untuk Mahasiswa Perantauan

Baca: Belajar Membuat Konten Untuk Media Sosial

Kita pun terkadang melakukan hal demikian. Menginginkan sesuatu hanya karena tidak mau kalah dengan orang lain yang lebih dulu mempertontonkannya di media sosial. Pada kenyataannya, ketika keinginan tersebut telah terwujud, barulah sadar bahwa ternyata kita tidak terlalu membutuhkannya bahkan tidak terlalu bahagia saat sudah mendapatkannya. Dari sini kita harusnya sadar bahwa sehebat apapun pencapaian orang lain yang tampil di media sosial, tidak harus kita ikuti. Apa yang orang dapatkan, belum tentu sama dengan apa yang kita butuhkan.

Manusia memang punya banyak keinginan. Namun ada baiknya ketika keinginan tersebut muncul, coba ajak bicara dulu. Apakah keinginan tersebut memang benar-benar kita butuhkan. Apakah keinginan tersebut berasal dari diri kita sendiri dan sesuai dengan nilai hidup, atau hanya karena ingin mengikuti teman saja.

Melakukan hal ini memang tidak semudah yang dibayangkan. Juga tidak semudah membuat tulisan ini. Namun jangan khawatir karena kita punya banyak waktu untuk mencobanya.

*Bagi kamu yang ingin mendapatkan insight lebih banyak dari buku You Do You, bisa membelinya di sini

.
0Shares
Muhammad Noor Fadillah

Menyelesaikan pendidikan S1 Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Memiliki ketertarikan di bidang ekonomi dan manajemen. Telah menerbitkan 2 buku, 1 ebook, dan banyak tulisan lainnya yang tersebar di koran, media online, blog, dan platform lainnya.

2,260 Komentar