Pengalaman Pertama Menjadi Content Writer

Pengalaman Pertama Menjadi Content Writer

Menjadi seorang content writer adalah hal yang tidak pernah aku sangka sebelumnya. Jangankan bercita-cita menjadi content writer, bahkan profesi content writer saja rasa-rasanya baru 1 atau 2 tahun belakangan ini aku ketahui. Nah yang lebih menarik, aku sebenarnya juga tidak pernah melamar pekerjaan sebagai content writer lho. Aneh, bukan? Hehe.

Jadi begini ceritanya. Semua berawal ketika aku mengikuti sebuah lomba blog yang diadakan salah satu perusahaan. Entah karena pesertanya sedikit, keberuntungan, atau apapun itu, intinya aku menjadi salah satu pemenang di sana. Hehe.

Dari lomba itu, aku mendapatkan semacam beasiswa untuk mengikuti kelas sertifikasi yang mereka adakan. Harusnya sih dikenakan biaya jutaan rupiah kalau ikut jalur regular. Berhubung aku dapat beasiswa, jadinya gratis.

Aku pun mengikuti sertifikasi tersebut meski sebenarnya tidak terlalu paham itu sertifikasi apa. Sayang aja kan kalau hadiahnya tidak diambil. ^_^

Proses sertifikasi akhirnya selesai aku ikuti. Nah, setelah itu aku dan beberapa pemenang lomba blog lainnya dikumpulkan di sebuah meeting online. Kami bertemu dengan CEO, HR, dan user. Mereka memperkenalkan proyek yang sedang mereka kerjakan dan menawarkan kepada kami untuk ikut terlibat di dalamnya sebagai freelancer. Tentunya kami semua meng-iya-kan tawaran tersebut.

Setelah beberapa lama, meeting kemudian berakhir dengan masing-masing dari kami diberikan tugas. Tugas ini semacam tes untuk mengetahui apakah kami cocok untuk diterima bekerja atau tidak. Waktu itu aku kebagian tugas untuk riset konten.

Wawancara “Tak Kasat Mata”

(sumber: pexels.com)

Hari itu pihak HR menelepon. Posisiku waktu itu sedang berada di kantor. Untungnya sedang tidak banyak pekerjaan.

Melalui panggilan telepon, kami berdiskusi menindaklanjuti meeting tempo lalu dan tugas yang sudah aku kerjakan. HR juga bertanya beberapa hal, salah satunya apakah aku menyanggupi bekerja sebagai freelancer mengingat saat itu aku juga punya pekerjaan utama yang menyita waktu dari pagi sampai sore.

Semua pertanyaan aku jawab apa adanya. Alhamdulillah, kerjasama akhirnya dapat terjalin. Aku lalu diberikan penjelasan mengenai jobdesc, awal mula bekerja, gaji, dan sebagainya. Setelah pertemuan itu, HR mengirimkan kontrak kerja dan beberapa keperluan administratif lainnya.

Beberapa waktu kemudian aku baru menyadari kalau pertanyaan dari HR hari itu adalah pertanyaan wawancara. Dilihat dari jenis pertanyaannya sih khas pertanyaan HR untuk calon karyawan gitu, kan ya. Orang yang meneleponku waktu itu ternyata juga seorang Head of HRGA. Aku kira waktu itu beliau hanya seorang staff.

Seandainya memang wawancara kerja, maka aku benar-benar tidak menyadarinya. Karena waktu itu memang tidak dikatakan akan ada wawancara kerja. HR hanya mengatakan bahwa ingin menghubungiku untuk mendiskusikan beberapa hal. Aku bahkan tidak tahu kalau yang menghubungiku adalah kepala HR langsung. Suasananya pun seperti diskusi biasa.

Meskipun tidak menyadari bahwa itu adalah wawancara kerja dan aku pun menjawab dengan spontan saja, alhamdulillah tetap diterima,,hehe.

Pelajarannya. Kalau dihubungi pihak HR, meskipun tidak diagendakan untuk wawancara kerja, tetap harus menyiapkan diri ya kalau-kalau HR mengadakan wawancara “tak kasat mata”. ^_^

Kepercayaan Diri Menjadi Content Writer

(sumber: pexels.com)

Ketika awal mula menjadi content writer, ada kekhawatiran yang aku rasakan. Hal ini karena aku tidak punya pengalaman sama sekali sebagai content writer. Selama ini aku membuat konten hanya untuk blog pribadi. Itupun aku tidak tau apakah tulisannya sudah bagus atau belum.

Untungnya kepercayaan diri itu muncul karena salah satunya aku pernah ikut sertifikasi content writer di impactfulwriting. Ilmu dasarnya sudah ada, praktek membuat konten juga sudah pelan-pelan aku terapkan di blog. Nah, selanjutnya tinggal menikmati menulis sambil dibayar, kan? Hihihi. Karena itulah kesempatan yang diberikan aku manfaatkan sebaik mungkin.

Bagi kamu yang juga berminat menjadi content writer, baik itu sebagai freelancer sepertiku atau karyawan tetap, aku menyarankan kamu ikut sertifikasi. Selain untuk mendapatkan ilmunya, ikut sertifikasi juga menambah kepercayaan diri. Setidaknya hal itu yang aku rasakan sendiri.

Jika masih bingung mau ikut sertifikasi di mana, aku merekomendasikan kamu ikut kelas sertifikasi content writer di impactfulwriting aja. Aku sudah membuktikan manfaatnya. Di sini kamu akan dibimbing langsung oleh narasumber yang berpengalaman mengenai bagaimana menulis konten yang impactfull sampai cara membangun karir sebagai seorang content writer.

Pertemuan online pada sertifikasi impactful writing

Setelah mengikuti pembelajaran, mengerjakan tugas, dan dinyatakan lolos, kamu juga bisa mendapat gelar non-akademik lhoo. Gelarnya CIW atau Certified Impactful Writer. Gelar ini bukan untuk keren-kerenan ya, tapi untuk menambah kepercayaan diri sendiri dan kepercayaan pihak yang akan menerima kita bekerja.

Apakah sertifikasi ini berbayar? Tentu saja berbayar. Malah agak aneh menurutku kalau sertifikasi dengan gelar non-akademik diadakan gratis.

Jangan takut berinvestasi untuk mengikuti sertifikasi semacam ini. Toh kalau dengan ikut sertifikasi kamu berpeluang mendapat kesempatan dan penghasilan yang lebih besar, kenapa tidak?

Suka Duka Menjadi Content Writer

(sumber: pexels.com)

Suka duka pasti selalu ada disetiap pekerjaan. Sekalipun pekerjaan itu adalah hal yang kamu sukai. Aku pun mengalaminya.

Berdasarkan pengalamanku, duka menjadi content writer adalah waktu yang habis hanya untuk bekerja. Karena content writer ini adalah pekerjaan sampingan, maka Senin sampai Ahad menjadi waktu untuk bekerja. Aku harus bekerja penuh agar bisa memenuhi target yang diberikan.

Belum lagi kalau klien mendadak memberi tugas dan harus segera selesai. Siap-siap begadang deh.

Kalau sukanya, ada banyak nih. Pertama, mendapat kepuasaan ketika bisa memberikan tulisan terbaik kepada klien. Apalagi tulisan tersebut juga akan dibaca oleh masyarakat luas. Senang sekali bisa memberikan manfaat melalui tulisan.

Kedua, menulis sambil dibayar. Bahkan gaji sebagai freelance content writer lebih besar dari gaji pekerjaan utama aku. Wkwk.

Ketiga, mendapat kenalan baru. Rekan kerja aku ada yang berasal dari Padang, Bandung, Surabaya, dan Lombok. Lumayan kan bisa nambah relasi.

Masih banyak lagi sukanya menjadi content writer. Kalau ditulis semua khawatir malah jadi curhatan,,,wkwkwk. Nanti kamu bisa merasakannya sendiri kalau sudah menjalani profesinya. Semangat!!!

Latar Belakang Pendidikan

(sumber:pexels.com)

Kesesuaian latar belakang pendidikan dengan pekerjaan menjadi topik yang seru ya untuk dibicarakan. Ada pihak yang menyayangkan banyak lulusan perguruan tinggi yang bekerja tidak sesuai latar belakang pendidikan.

Sebagian pekerja yang bekerja tidak sesuai jurusan ini akhirnya ada yang merasa ilmunya sia-sia bahkan sampai merasa percuma berkuliah. Sementara untuk mencari pekerjaan yang sesuai jurusan tidak semudah yang dibayangkan.

Aku tidak mau terlalu jauh ya membahas hal itu. Kali ini aku mau berbagi pengalaman, bukan berbagi perdebatan,,,hahaha. Namun sebagai seorang pekerja juga, di sini aku mau berbagi sedikit pendapatku.

Kalau aku ditanya apakah profesiku sebagai content writer sekarang ini sesuai dengan jurusan kuliah aku dulu? Maka jawabannya TIDAK.

Eiitts tapi tunggu dulu. Meskipun sewaktu kuliah tidak diajarkan cara menulis konten, tapi yang aku tuliskan adalah tentang manajemen bisnis. Nah, pengetahuanku tentang manajemen bisnis inilah yang banyak aku dapatkan sewaktu kuliah. Alhasil ketika diminta membuat konten tentang manajemen bisnis, aku tidak mengalami banyak kesulitan karena sudah punya dasar-dasar keilmuannya sebagai bahan tulisan.

Baca juga: Cara Mengelola Keuangan Untuk Mahasiswa Perantauan

Baca juga: Pembajakan Karya Digital, Ini Cara Menghindairnya

Setidaknya ada dua pelajaran yang aku dapatkan. Pertama, seandainya kamu bekerja tidak sesuai latar belakang pendidikan, bukan berarti ilmu yang kamu dapatkan di bangku kuliah menjadi sia-sia. Sedikit banyaknya akan ada kok ilmu yang berguna untuk pekerjaan.

Ilmu yang dimaksud dalam konteks ini pun luas ya. Misalnya sewaktu kuliah kamu terbiasa mengatur waktu. Nah ilmu mengatur waktu ini bisa berguna kan dalam pekerjaanmu. Jadi menurutku, tidak ada yang sia-sia.

Pelajaran kedua, menjadi penulis bisa berasal dari jurusan apapun. Tidak harus kuliah jurusan bahasa dan sastra atau jurnalistik.

Misal nih kamu kuliah jurusan ilmu hukum. Justru dengan demikian, kamu akan lebih mudah menulis konten tentang hukum, bukan? Kamu kuliah jurusan kesehatan, maka kamu mudah dan punya kewenangan menulis tentang kesehatan. Begitupun dengan jurusan-jurusan lainnya.

Jika kamu punya ketertarikan dalam menulis, lanjutkan saja sekalipun kamu punya latar belakang pendidikan yang tidak ada kaitannya dengan menulis. Mulai saja menulis dari tema-tema yang kamu sukai dan kuasai.

Perlu diingat. Menjadi seorang penulis tidak saja harus bisa menulis, tapi juga tahu apa yang ingin ditulis. Agar tahu apa yang ingin ditulis, caranya adalah dengan manambah wawasan yang salah satunya bisa didapatkan dari bangku kuliah.

Oh ya, satu lagi. Dari pengalaman aku, ternyata punya skill menulis saja tidak cukup. Saat aku menjadi content writer, aku diminta menulis menggunakan aplikasi yang ditetapkan klien. Padahal aplikasi tersebut masih asing bagiku. Yaa mau tidak mau harus belajar sendiri.

Selain menulis, aku juga menggunakan google drive untuk koordinasi dan pengumpulan hasil kerja. Bahkan pernah juga diminta menggunakan Ms. Excel dan google form. Bayangkan kalau aku gaptek dengan hal-hal semacam itu.

Oleh karenanya, jangan membatasi diri untuk belajar banyak hal. Sekalipun tidak berkaitan langsung dengan menulis, tidak ada salahnya kok dipelajari.

Kuasai skill desain grafis, copywriting, dan digital marketing. Cek di sini

Belajar bikin website sendiri meskipun bukan anak IT harga termurah. Belajar di sini

Akhir Cerita

Sekian dulu ya sharing pengalaman pertama aku menjadi content writer. Berhubung masih anak baru, jadi ceritanya segini aja. Aku yakin, menjadi content writer akan memberikan banyak cerita menarik lainnya.

Kalau kamu juga punya pengalaman menjadi content writer, boleh nih share di kolom komentar.

0Shares
Muhammad Noor Fadillah

Menyelesaikan pendidikan S1 Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Memiliki ketertarikan di bidang manajemen, marketing, dan penulisan. Suka menulis berbagai hal. Mulai dari sastra, jurnalistik, ekonomi, bisnis, dan marketing. Telah menerbitkan 2 buku, 1 ebook, dan banyak tulisan lainnya yang tersebar di koran, media online, blog, dan platform lainnya.

13,085 Komentar