Cara Karya Digital Terhindari Dari Pembajakan

Pembajakan Karya Digital, Ini Cara Menghindarinya

Membuat sebuah karya khususnya karya digital memang rentan terjadi pembajakan. Secara karakteristik karya digital umumnya memang tidak punya keamanan yang memadai. Apalagi kemajuan teknologi dan isu pembajakan itu sendiri yang nampaknya masih menjadi hal yang belum prioritas di Indonesia.

Ada beragam modus pembajakan yang merugikan pembuatnya. Misalnya saja sebuah ebook yang dibuat dan dijual dengan susah payah oleh penulisnya, ternyata dijual kembali oleh oknum tertentu sehingga ia mendapatkan keuntungan sementara penulisnya tidak.

Bisa juga orang lain mendapatkan ebook dari oknum tertentu secara gratis padahal harusnya berbayar. Hal ini mudah sekali terjadi karena ebook memang bisa dibagikan dengan sangat mudah bahkan cukup lewat pesan whatsapp. Bagi saya ini juga sebuah pembajakan yang merugikan penulisnya.

Saya sendiri pernah menyaksikan aksi pembajakan yang terjadi secara terang-terangan di marketplace. Ini terjadi pada sebuah penyedia online course yang semua video pembelajarannya dijual kembali dengan harga jauh lebih murah. Ada kemungkinan oknum pembajak ini adalah orang yang mengikuti online course tersebut kemudian men-download semua video pembelajaran lalu menjualnya di marketplace.

Selain merugikan penyedia, hal ini juga membuat kesal peserta online course tersebut termasuk saya. Terlebih ketika kami tahu bahwa penjual tersebut ternyata juga melakukan pembajakan pada karya orang lain.

Dampak Paling Bahaya dari Pembajakan

Selain kerugian finansial, yang lebih mengkhawatirkan dari pembajakan ini yaitu ketakutan seseorang untuk berkarya. Akan ada orang yang berpikir “untuk apa susah-susah bikin karya kalau pada akhirnya tidak mendatangkan keuntungan karena pembajakan”.

Saya sendiri ketika dulu membuat ebook merasa takut kalau nantinya ebook saya malah dibajak orang lain. Beberapa teman menyarankan agar membuat versi cetak saja karena lebih aman. Kalaupun dibajak, hasilnya jelas hanya berupa fotokopian.

Ketakutan ini tidak hanya menghinggapi saya. Dalam sebuah kelas online yang saya ikuti, seseorang juga pernah bertanya bagaimana agar karya ebook yang nantinya ingin ia buat tidak mengalami pembajakan. Tentu ia punya kekhawatiran kalau karyanya akan jadi korban pembajakan selanjutnya.

Di luar sana, tidak menutup kemungkinan ada banyak orang yang juga ingin berkarya tapi takut jika pada akhirnya karya mereka dibajak. Tentu saja ini tidak boleh terus terjadi.

Lantas, Bagaimana Menyikapi Fenomena Ini???

Panji Pragiwaksono dalam tulisannya berjudul “Menghargai Gratisan” menyebutkan bahwa pembajakan pada dasarnya tidak bisa dihilangkan. Akan selalu ada orang yang melakukannya. Bahkan perusahaan besar seperti LV pernah menggugat pembajak dan ternyata LV yang justru kalah. Ini sebuah kenyataan yang rasanya sulit diterima tapi memang begitu adanya.

Masih menurut Panji, para pekerja kreatif tidak bisa menghentikan pembajakan. Walaupun bukan berarti tidak mampu apalagi mengiyakan terhadap pembajakan tersebut. Secara juridiksi, harusnya aparat penegak hukum-lah yang punya tanggungjawab.

Sebagai seorang yang berkarya, langkah terbaik yang bisa dilakukan untuk melawan pembajakan adalah dengan membuat karya yang punya value lebih besar dan menciptakan hubungan baik dengan konsumen sehingga sulit untuk dibajak.

Menambah value produk digital bisa dengan berbagai cara. Misalnya memberikan kesempatan kepada pembeli untuk bisa konsultasi dengan penulis atau mentor secara langsung, memberikan voucher, berkesempatan mendapat tanda tangan penulisnya, serta fasilitas lainnya.

Ada pula yang membuat program donasi. Misalnya menyumbangkan 10% dari keuntungan penjualan untuk orang yang membutuhkan.

Dengan melakukan hal di atas andaipun suatu saat karyamu dibajak, mereka hanya bisa membajak produknya saja tapi tidak akan bisa membajak fasilitas atau value tambahan yang kamu berikan. Sementara kamu, tidak hanya menjual karya namun juga beserta seluruh value tambahan yang akan lebih besar manfaatnya bagi pembeli.

Adapun membangun hubungan yang baik dengan konsumen bisa kamu lakukan dengan cara sederhana, misalnya sering berbagi hal positif atau bermanfaat di media sosial. Kamu juga bisa memberikan ebook gratis misalnya kepada pembaca setiamu. Ini menyesuaikan dengan karya yang kamu buat.

Dengan begitu mereka akan senang kepadamu dan akan membeli produk aslimu. Di beberapa kasus, tidak jarang justru pembeli setia inilah yang akan protes keras terhadap pembajakan.

Sebenarnya cara formal juga bisa, seperti mendaftarkan karya pada HaKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual). Hanya saja bagi pemula ini akan terasa ribet, memerlukan biaya, dan hanya karya dengan kriteria tertentu saja yang bisa terdaftar.

Jangan Takut Pada Pembajakan

Ketimbang kamu pusing memikirkan pembajakan yang akhirnya membuat takut berkarya, lebih baik fokus saja membuat karya yang lebih baik. Buatlah karya dengan value yang besar serta rajinlah membangun hubungan yang baik dengan calon konsumen.

Sekalipun kamu belum bisa membuat produk dengan value serta belum mampu membangun hubungan baik, maka solusinya tetaplah berkarya. Kamu perlu ingat kembali tujuan baikmu ketika membuat karya. Maka jangan sampai niat baik itu harus sirna hanya karena pembajakan.

Masalah pembajakan, serahkan kepada Tuhan dan Pak Polisi saja. Tugas kita adalah berkarya.

0Shares
Muhammad Noor Fadillah

Menyelesaikan pendidikan S1 Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Memiliki ketertarikan di bidang ekonomi dan manajemen. Telah menerbitkan 2 buku, 1 ebook, dan banyak tulisan lainnya yang tersebar di koran, media online, blog, dan platform lainnya.

2,028 Komentar