Menjadi Wirausahawan Muslim Masa Kini Dengan Meneladani Prinsip Dagang Nabi Untuk Mencapai Kemajuan Ekonomi

Bonus demografi penduduk pada tahun 2030 yang digadang-gadang akan menjadi momentum kebangkitan ekonomi dikarenakan melimpahnya usia produktif yang siap kerja, nyatanya perlahan-lahan mulai menimbulkan kecemasan. Satu sisi bonus demografi membawa potensi besar, namun di sisi lain, kegagalan dalam memanfaatkan hal tersebut bisa berujung petaka bagi sebuah negara.

Banyaknya penduduk usia produktif, berarti menuntut ketersediaan lapangan pekerjaan yang sesuai. Apabila pasar sudah tidak mampu menyerap tenaga kerja, maka bisa dibayangkan ada berapa banyak calon pekerja yang akan menjadi pengangguran. Bukannya menjadi penopang perekonomian, yang ada malah menambah beban negara dan menimbulkan segudang masalah lainnya. Sedangkan jika berkaca dari situasi sekarang ini, yang didapati justru keadaan ekonomi yang masih fluktuatif, PHK karyawan masih terjadi disana sini, persaingan yang semakin ketat dan lain sebagainya.

Pemerintah pun seolah masih kesulitan dalam mengatasi masalah-masalah tersebut. Selain itu, degradasi moral para pemuda hingga hari ini masih terus berlanjut yang dalam jangka panjang akan berdampak negatif pada masa depan mereka sendiri. Para orang tua dan pemuda-pemuda lainnya pun masih terjebak pada pola pemikiran untuk menjadi karyawan, bukan sebagai wirausahawan. Dengan kata lain, mereka ingin memposisikan diri sebagai pencari kerja, bukan pencipta lapangan kerja.

Bangsa Indonesia semestinya harus belajar dari Singapura. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Singapura adalah negara dengan jumlah penduduk yang terbilang sangat sedikit. Luas wilayahnya pun tak lebih besar dari Provinsi DKI Jakarta. Dari segi ketersediaan sumber daya alam, Singapura jelas tertinggal jauh.

Meski demikian, nyatanya Singapura mampu menjadi negara dengan ekonomi yang tangguh, bahkan melampaui negara-negara besar. Pendapatan per kapita penduduknya menjadi tertingi dan terkaya di Asia sehingga mendapat julukan sebagai Macan Asia. Singapura memiliki rasio perdagangan terhadap PDB tertinggi di dunia selama tahun 2008. Dengan jumlah sumber daya manusia dan alam yang terbatas itu, lantas apa gerangan yang menjadi rahasia dibalik kemajuan besar Negeri Singa Putih itu.

Satu hal yang menjadi kunci keberhasilan itu semua adalah banyaknya wirausahawan-wirausahawan yang terus bermunculan. Pengusaha di Singapura telah mencapai angka 10% dari total penduduknya. Singapura kini menjadi negara dengan jumlah pengusaha terbesar kedua di dunia, setelah Amerika Serikat. Pemerintahnya pun amat gencar melakukan terobosan demi terobosan untuk terus mendongkrak jumlah wirausahawan.

Indonesia harusnya mencontoh Singapura dalam menciptakan pengusaha-pengusaha baru yang terbukti menjadi pengokoh perekonomian. Saat ini jumlah pengusaha di Indonesia masih dikisaran 1,5%. Peluang untuk menciptakan hal tersebut bukanlah tidak mungkin, terlebih kekayaan alam Indonesia sangat melimpah sehingga bisa dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin. Stok penduduk usia produktif juga masih banyak hingga ke depannya.

Ada satu potensi besar yang sebenarnya dimiliki bangsa Indonesia untuk menciptakan para wirausahawan yang berkarakter, tangguh dan unggul. Namun sayangnya, selama ini tidak banyak disadari oleh orang-orang dan dianggap inkoheren dengan masalah yang ada. Potensi tersebut adalah jumlah penduduk Indonesia beragama Islam yang sangat banyak.

Umat Islam sebagai penduduk mayoritas di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk bisa menjadi seorang wirausahawan yang sukses. Hal ini tidak terlepas karena umat Islam mempunya role model yang sangat luar biasa, yakni baginda Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW merupakan sosok manusia yang setiap kisah hidupnya banyak mengandung pelajaran bagi seluruh manusia. Nabi Muhammad menjadi orang yang punya pengaruh besar sekaligus sebagai penyampai firman-firman Allah. Beliau adalah orang yang paling tepat dan sempurna untuk dijadikan suri tauladan dalam hal apapun termasuk dalam perniagaan atau bisnis.

Berdagang merupakan pekerjaan yang pernah lama dilakukan nabi. Sebagai seorang anak yatim piatu, Nabi Muhammad banyak menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang produktif. Beliau bukanlah tipikal orang yang hanya berpangku tangan dan pasrah dengan keadaan. Terbukti, sejak kecil Nabi Muhammad sudah terbiasa mengembalakan kambing yang dari sana mendapatkan upah untuk meringankan beban paman yang mengasuhnya. Pada umur 12 tahun beliau bahkan telah berdagang bersama pamannya, Abu Thalib, hingga ke negeri Syam. Dari sanalah nabi banyak mendapatkan pelajaran untuk menjadi seorang entrepreneur sejati.

Setelah beranjak dewasa, aktivitas dagang semakin tak terpisahkan dari diri nabi. Beliau mencoba untuk berdagang kecil-kecilan sendiri di Kota Mekkah. Meski tak memiliki modal besar, beliau tak patah semangat. Nabi kemudian menawarkan kemitraan dengan para janda kaya yang tidak sanggup menjalankan sendiri modal yang mereka miliki. Salah seorang diantaranya adalah Siti Khadijah yang pada akhirnya menjadi istri Nabi Muhammad SAW. Ketika menikah dengan Siti Khadijah itulah, karir nabi dalam berwirausaha mencapai puncak keemasan karena didukung penuh oleh Khadijah.

Ada beberapa prinsip yang dipegang teguh Nabi Muhammad sehingga mampu menjadi orang yang sukses dalam berdagang. Pertama dan paling penting adalah kejujuran. Oleh penduduk Mekah, Nabi Muhammad mendapat gelar al-amin, yaitu orang yang jujur dan dapat dipercaya. Dalam hal berdagang, kejujuran sangat dijunjung tinggi oleh beliau. Tak pernah sekalipun beliau berdusta atau memalsukan dagangannya. Beliau jujur dalam menyampaikan keunggulan barang yang dijual dan tidak dilebih-lebihkan, begitupun dengan kelemahannya sekalipun.

Kedua, etika bisnis yang dijiwai nilai-nilai Islam. Nabi Muhammad sangat mengutamakan transaksi yang dilandasi suka sama suka, amanah, adil, tidak menimbun barang, menghindari praktik riba, dan tidak menjelek-jelekkan bisnis orang lain. Etika bisnis yang selalu dipegang nabi inilah yang membuat nabi memiliki integritas tinggi serta disukai banyak orang.

Etos kerja yang tinggi menjadi prinsip selanjutnya. Nabi bahkan sangat marah melihat orang pemalas dan berpangku tangan. Kerja keras dan tidak mudah menyerah merupakan faktor penting agar memiliki etos kerja yang tinggi. Etos kerja yang dimaksud tentunya etos kerja yang didasarkan pada niat beribadah kepada Allah. Karena itu, meski nabi adalah pekerja keras dalam hal berdagang, bukan berarti beliau mengesampingkan urusan ibadah. Adanya keseimbangan antara urusan dunia dengan akhirat menjadi contoh berharga untuk menjadi orang yang berhasil.

Ada banyak hal lainnya yang sebenarnya dapat dipelajari dari seorang Rasul Allah. Namun setidaknya, dari beberapa prinsip itu, sudah sepantasnyalah umat Islam menjadi orang yang unggul dalam dimensi perekonomian. Nabi Muhammad telah menjadi uswatun hasanah dalam berwirausaha. Kekhawatiran-kekhawatiran yang selama ini sering dialami orang-orang dalam berwirausaha seperti tak memiliki modal, takut kebangkrutan, tidak memiliki ilmu dagang dan sebagainya, nyatanya telah dijawab dan dicontohkan oleh baginda nabi sejak dahulu.

Spirit dan petunjuk lengkap dalam berwirausaha itulah yang harusnya menjadi landasan, khususnya pemuda muslim untuk terjun berwirausaha. Terlebih nabi juga telah mengajarkan bahwa bekerja tidak hanya untuk mendapatkan materi semata, tetapi lebih tinggi dari itu, yakni mengharapkan ridho Allah SWT. Dengan menjadi seorang wirausahawan akan menciptakan lapangan pekerjaan, yang dari sana membawa kemaslahatan bagi banyak orang.

Dalam konteks masa kini, di mana teknologi berkembang pesat, pasar semakin bebas, persaingan semakin sengit serta berbagai macam dinamika yang terjadi, tentu menjadi tantangan berat bagi bangsa ini. Menjadi seorang karyawan apalagi di lingkungan formal, tak bisa dijadikan satu-satunya tujuan bekerja. Bukan berarti kemudian mendeskreditkan pekerjaan seorang karyawan, hanya saja mari mencoba jalan baru sebagai seorang wirausahawan. Menjadi wirausahawan juga bukan berarti tanpa kerja keras. Diperlukan etos kerja yang tinggi sebagaimana yang pernah nabi contohkan.

Sudah saatnya merubah mindset lama, beralih menjadi mindset seorang wirausaha. Sekarang bukan lagi zamannya mencari pekerjaan, tetapi sudah saatnya menciptakan lapangan pekerjaan. Dengan semakin banyak pemuda yang tergugah menjadi wirausahawan, maka semakin besar pula membuka kesempatan untuk memajukan bangsa ini dengan menciptakan ekonomi yang tangguh dan berkarakter. Kemajuan sebuah negara bisa dimulai dari kemajuan perekonomiannya. Bukan tidak mungkin, diusia 100 tahunnya, Indonesia akan menjadi bangsa besar sebagaimana yang kita mimpikan selama ini.

.

.

DAFTAR PUSTAKA

Detik Finance. Wirausaha di Singapura Capai 10% dari Total Penduduk,

Indonesia Cuma 1,5%. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/2121160/wirausaha-di-singapura-capai-10-dari-total-penduduk-indonesia-cuma-15 (diakses pada 25 Maret 2018).

Gusriani, R. Yani dan Faulidi, Haris. Dakwah dalam Bisnis dan Entrepreneur Nabi

Muhammad SAW. Jurnal Ilmu Dakwah (pdf). Vol 11. No 21. Januari – Juni 2012. Diunduh dari http://jurnal.uin-antasari.ac.id. (26 Maret).

Indriyani Sitepu, Novi. Perilaku Bisnis Muhammad SAW sebagai Enterpeneur dalam

Filsafat Ekonomi Islam. Jurnal Human Falah (pdf). Volume 3. No 1. Januari – Juni 2016. Diunduh dari http://jurnal.uinsu.ac.id. (26 Maret 2018).

Ramdan, Anton. 2013. Etika Bisnis dalam Islam. Bee Media Indonesia. Jakarta.

Viva.co.id. Ini Rahasia Kesuksesan Ekonomi Singapura Si Macan Asia.

https://www.viva.co.id/berita/bisnis/528664-ini-rahasia-kesuksesan-ekonomi-singapura-si-macan-asia (diakses pada 25 Maret 2018).

Wikipedia. Ekonomi Singapura. https://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi_Singapura

(diakses pada 25 Maret 2018).

Zaini, Ahmad. Meneladani Etos Kerja Rasulullah SAW. Jurnal Bisnis dan

Manajemen Islam (pdf). Vol 3. No 1. Juni 2015. Diunduh dari http://journal.stainkudus.ac.id. (diakses pada 26 Maret 2018).

0Shares
Muhammad Noor Fadillah

Menyelesaikan pendidikan S1 Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Memiliki ketertarikan di bidang manajemen, marketing, dan penulisan. Suka menulis berbagai hal. Mulai dari sastra, jurnalistik, ekonomi, bisnis, dan marketing. Telah menerbitkan 2 buku, 1 ebook, dan banyak tulisan lainnya yang tersebar di koran, media online, blog, dan platform lainnya.

142 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *