Ekonomi (Harus) Jaya Pasca Pandemi Corona

sumber gambar: pixabay.com

Penyebaran Covid-19 yang terus menyebar dengan begitu cepat hingga hari ini benar-benar mampu mengubah sebagian besar tatanan masyarakat dunia. Aktivitas yang begitu dibatasi sehingga mengharuskan bekerja, belajar, dan beribadah di rumah, kekhawatiran akan corona layaknya malaikat maut yang siap menjemput, kenaikan harga sejumlah barang, hingga lumpuhnya kegiatan ekonomi adalah sederet kisah pilu yang harus dilalui masyarakat.

Media televisi atau media sosial lainnyapun berubah begitu “membosankan”. Silih berganti mereka memberikan informasi sampai berita kematian akibat virus ini. Rasanya hampir tak ada lagi berita lain. Kadang-kadang hal semacam itu membuat kita justru semakin takut akan situasi yang seperti mimpi buruk.

Bekerja di rumah atau lebih dikenal Work From Home telah banyak digemakan. Begitu pula dengan sosial distancing/physical distancing serta #DiRumahAja juga turut dihimbau untuk dilakukan masyarakat. Cara-cara ini dinilai bisa mengurangi penyebaran Covid-19. Meski demikian, tak semua masyarakat bisa dan mau melakukan hal yang memang berat bagi sebagian orang. Sekali lagi, bukan karena tidak ingin melaksanakan, tapi memang sulit untuk dilaksanakan.

Sektor ekonomi menjadi salah satu yang sangat merasakan dampak buruk akibat pandemi ini. Banyak perusahaan akhirnya terpaksa meliburkan karyawan dan meminta mereka bekerja di rumah. Kalaupun tetap beroperasi, permintaan dari konsumen cenderung berkurang akibat orang-orang yang tidak lagi banyak melakukan aktivitas seperti berbelanja atau berwisata. Kebanyakan orang memang benar-benar berdiam di rumah kecuali ada keperluan mendesak. Konsumen juga cenderung mengurangi pengeluaran yang tidak begitu urgen dan memprioritaskan bahan-bahan pokok serta barang-barang kesehatan seperti sabun cuci tangan, antiseptik, dan hand sanitizer.

Situasi semacam ini memang terasa menyakitkan khususnya bagi pelaku UKM yang menggantungkan hidupnya dari penjualan sehari-hari. “Berjualan hari ini untuk makan hari ini”, begitulah barangkali kalimat yang bisa mewakili perjuangan dan perasaan mereka. Berakhirnya pandemi ini pun tak ada yang tahu pasti. Bisa jadi beberapa pekan lagi atau bahkan beberapa bulan baru semua berakhir. Dengan situasi semacam itu, apakah para pelaku UKM bisa bertahan hidup? Kita semua tentu sangat paham.

Saya pribadi sebagai orang yang menjadi bagian di sebuah usaha start-up juga merasakan dampak buruk ini. Semua kesepakatan kerjasama dengan banyak klien akhirnya tumbang semuanya. Padahal ada pengeluaran tetap yang harus dibayar per bulannya. Bukan tidak mungkin pendapatanpun menjadi nol persen jika pandemi ini tidak segera berakhir.

Walau demikian, bukan berarti kita hanya bisa tergeletak pasrah dan berputus asa. Mengisi hari-hari hanya dengan meratapi nasib sangatlah tidak produktif bahkan justru membuat diri semakin tertekan. Kalau kita mau jujur bukankah dalam perjalanan usaha atau bisnis, keadaan semacam ini sebenarnya wajar-wajar saja. Kadang untung kadang rugi. Satu hal yang jangan sampai kita lupa bahwa rezeki sudah diatur oleh-Nya.

Setiap peristiwa yang terjadi selalu membawa pelajaran yang bermakna. Selalu ada sisi positif yang menyertainya. Itulah tugas kita sebagai manusia untuk membacanya lalu memahaminya. Begitu pula dengan pandemi corona. Dengan segala “kesusahan” yang dibawanya kita harus tetap bijaksana. Karena itulah dalam tulisan singkat dan sederhana ini, saya coba berbagi beberapa hal positif dari pandemi corona yang ada kaitannya dengan bisnis yang sedang kita jalani.

Saatnya Mencoba dan Memaksimalkan Jualan Online

Kecenderungan orang-orang yang berdiam di rumah tentu saja memberikan dampak buruk bagi kita yang terbiasa menawarkan produk secara langsung. Jalanan, pasar, mall, dan tempat-tempat lainnya menjadi sepi. Konsumen berkurang membuat pendapatan juga berkurang.

Dalam situasi semacam ini berjualan secara online bisa menjadi cara baru. Terlebih lagi, orang-orang yang berdiam diri di rumah kebanyakan selalu memainkan gadget mereka. Entah itu sekadar mengusir rasa bosan, mencari informasi, atau berbelanja online. Disinilah potensi besar itu ada.

Berjualan secara online bisa kita mulai dengan hal yang paling sederhana. Misalnya memanfaatkan media sosial seperti instagram, facebook, twitter, dan sebagainya. Atau aplikasi komunikasi seperti whatsApp dan telegram pun bisa. Kalau kita ingin menambah media lainnya dan sesuai dengan karakteristik produk kita, juga bisa memanfaatkan marketplace semacam Bukalapak, Tokopedia, Shopee, dan sebagainya yang sekarang ini mudah untuk diakses dan digunakan.

Bagi yang belum terbiasa dan belum bisa? Nah justru inilah kesempatannya untuk “memaksakan diri”. Manfaatkan situasi ini untuk memacu diri dan bisnis kita lebih berkembang lagi. Saya kira, untuk bisa berjualan di  marketplace atau media sosial tidak terlalu sulit asalkan mau belajar.

Bagi yang selama ini sudah menggunakan media sosial untuk memperluas pemasaran, maka situasi ini menjadi waktu untuk semakin memaksimalkan media online. Terkadang, karena asik di dunia nyata yang bagi sebagian orang lebih menjanjikan, penggunaan media online hanya sebatas “formalitas”. Padahal jika benar-benar dimaksimalkan akan membawa pengaruh positif untuk usaha kita.

Banyak Waktu untuk Belajar dan Mengonsep Ulang Ide Usaha

Anjuran physical distancing, #DiRumahAja, atau bahkan kebijakan lokal lockdown yang sudah mulai berlaku membuat kita mendapat banyak waktu luang. Karena itu jangan sampai digunakan hanya untuk rebahan saja apalagi mengutuki nasib. Gunakan waktu yang ada untuk merenung dan kembali memikirkan dengan jernih bagaimana konsep usaha/bisnis kita ke depannya. Kuncinya asalkan jangan panik dan stres agar ide-ide brilian bisa muncul. Ya kecuali Anda penganut slogan “The Power of Kepepet” yang harus tertekan dulu baru bisa mikir.

Ada banyak hal yang bisa kita pikirkan. Semisal bagaimana membuat kemasan produk menjadi lebih menarik, menyusun strategi pemasaran yang efektif untuk menggugah konsumen, atau membuat inovasi produk dan layanan. Kalaupun belum bisa juga, setidaknya kita bisa membersihkan gerobak atau stand jualan (bagi yang jualan pakai gerobak/stand) agar lebih bersih dan nyaman dilihat.

Lebih Peduli Terhadap Kesehatan

Satu hal yang seolah menjadi tren dari adanya pandemi corona ini adalah meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan dan menerapkan pola hidup sehat. Mulai dari kembali membiasakan mencuci tangan, berolahraga teratur, dan makan makanan yang bergizi.

Bagi pelaku usaha, tren ini harus diperhatikan lebih serius khususnya bagi yang berjualan makanan. Satu hal yang beberapa kali saya sarankan kepada pelaku usaha makanan adalah perhatikan kebersihan ketika menyajikan makanan secara langsung. Kebiasaan buruk seperti-mohon maaf, menggunakan tangan untuk memencet HP, menerima uang, kemudian tanpa cuci tangan tiba-tiba menyentuh bahan-bahan makanan, adalah hal yang harus diubah. Kita bisa gunakan sarung tangan plastik atau minimal mencuci tangan.

Tujuan itu semua adalah memastikan makanan yang kita buat aman dikonsumsi serta memberikan jaminan kesehatan kepada konsumen. Dampaknya, konsumen memiliki kepercayaan kepada kita sehingga diharapkan menjadi pembeli dengan loyalitas tinggi.

Beberapa hal di atas bisa dicoba selama kita menghadapi masa-masa sulit ini sekaligus untuk persiapan usaha kita nantinya. Sebenarnya masih banyak hal lain yang bisa dilakukan. Kuncinya adalah selalu berfikir tenang dan hindari stres yang bisa saja justru membuat kita semakin tidak produktif.

Alasan lain yang membuat kita harus menyiapkan diri adalah untuk mengambil potensi saat pandemi corona berakhir. Maksudnya, ketika semua orang nantinya sudah bisa beraktivitas kembali, kecenderungannya orang-orang akan melakukan “balas dendam” akibat sebelumnya hanya bisa berdiam di rumah. Di sebagian orang ada perilaku dimana ia merasa terkekang untuk melakukan sesuatu lalu kemudian berada di situasi yang tidak lagi terkekang, maka ia akan melampiaskan semua keinginannya yang sebelumnya tidak terpenuhi. Pada saat itu orang-orang akan keluar rumah, jalan-jalan, nongkrong, dan berbelanja sepuasnya. Permintaanpun diprediksi akan naik pada fase ini. Perekonomian akan kembali bergeliat dan bertumbuh. Pertanyaan besarnya, apakah kita sudah siap mengambil potensi besar tersebut? Jawabannya harus siap.

Kita semua yakin bahwa pandemi corona ini pasti akan berakhir. Ketika semuanya telah benar-benar berakhir, maka kesempatan untuk kita kembali berusaha sudah terbuka lebar. Pada saat itu, tentunya kita sudah menyiapkan jurus-jurus baru agar usaha kita bisa lebih baik lagi. Jika dianalogikan, jangan sampai kita masih menunggu penumpang masuk ke dalam pesawat, tapi usahakan semua sudah siap sehingga bisa terbang setinggi mungkin.

Hari ini boleh jadi kita merasa semua serba susah. Hari-hari terasa begitu menyiksa. Ekonomi kita mungkin akan hancur-hancuran. Tapi percayalah kita bisa melaluinya. Berprasangka baiklah bahwa semua ini adalah ujian dari Tuhan untuk meningkatkan kemampuan hamba-Nya. Selamat berjuang untuk kita semua. Salam sukses selalu.

0Shares
Muhammad Noor Fadillah

Menyelesaikan pendidikan S1 Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Memiliki ketertarikan di bidang ekonomi dan manajemen. Telah menerbitkan 2 buku, 1 ebook, dan banyak tulisan lainnya yang tersebar di koran, media online, blog, dan platform lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *