Cuplikan Tentang Ritel Kita

sumber gambar : marketeers.com

Malam itu saya sedang asyik berselancar di aplikasi WhatsApp pribadi saya. Ya, kebetulan saat itu ada sedikit waktu lapang untuk sekadar beristirahat sembari meng-update informasi-informasi terbaru. Secara tak sengaja, saya kemudian mendapati sebuah link berita yang dibagikan oleh seseorang di sebuah grup. Judulnya membuat saya penasaran dengan berita itu. Saya kemudian mengaksesnya. Isi beritanya lumayan mengagetkan dan membuat saya tak habis fikir; salah satu perusahaan ritel besar di Indonesia, Giant, berencana menutup beberapa gerainya.

Langsung terbesit dalam benak saya, bagaimana selama ini ritel-ritel modern yang secara kasat mata sebenarnya telah mampu mendominasi pasar konsumen di Indonesia. Tak perlu jauh-jauh, lihat saja di sekeliling kita. Ada begitu banyak ritel modern yang bertebaran di pingir jalan bahkan sudah masuk ke pedesaan dan kampus-kampus (pengalaman sendiri di kampus saya). Misalnya ritel yang berkonsep minimarket yang kemudian memunculkan dua merek besar, yang namanya tak lagi asing di telinga orang Indonesia, yakni Alfamart dan Indomaret. Juga ada sejumlah merek lainnya seperti Foodmart, Seven Eleven, Family Mart, Circle K, dan sebagainya.

Selain itu, lebih jauh juga ada ritel berkonsep supermarket yang digawangi sejumlah merek seperti Hero, Sinar, Superindo, dan sebagainya. Adapula ritel berkonsep departement store seperti Ramayana, Matahari, Metro, dan sebagainya. Ritel berkonsep hypermarket antara lain Giant, Careffour, Hypermart, dan sebagainya.

Data juga berbicara mengenai gambaran kekuasaan ritel modern dewasa ini. Dikutip dari buku Manajemen Ritel (Christina Widya Utami), berdasarkan publikasi dari Data Consult pada Business Research Report (2011) yang menyatakan pertumbuhan gerai ritel di Indonesia mengelami pertumbuhan hingga 17,57% per tahun selama lima tahun (2007-2011). Pada tahun 2007 jumlah ritel di Indonesia sebanyak 10.365 gerai. Kemudian pada tahun 2011 jumlahnya telah mencapai 18.152 gerai yang tersebar dihampir seluruh kota di Indonesia (marketing.co.id)

Akan tetapi siapa sangka, di balik banyaknya gerai dan merek ritel yang terus bermunculan, berbagai macam keunggulan yang dimiliki, dan data yang menunjukkan perkembangan ritel yang tumbuh cukup baik, ternyata dapat disaksikan bahwa satu per satu dari mereka mulai berjatuhan.

Banyaknya gerai ritel yang tutup bukan terjadi baru-baru ini melainkan sudah berlangsung sejak beberapa tahun yang lalu. Tahun 2017 disebut-sebut sebagai tahun yang berat bagi industri ritel. Di tahun tersebut, beberapa perusahaan ritel besar banyak yang merugi hingga akhirnya harus menutup sebagian bahkan seluruh gerainya. Beberapa di antaranya seperti 7-Eleven yang resmi menutup gerainya pada 30 Juni 2017 dan diperkirakan telah mengalami kerugian sebesar Rp447,9 miliar (idntimes.com). Pada September 2017, giliran PT Matahari Departement Store yang harus menutup gerainya di Pasaraya Manggarai dan Blok M. Plaza, Jakarta. Penutupan lainnya juga dialami Lotus, Debenhams, Ramayana, Disc Tarra, Giant, dan lainnya.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Mande mengakui rendahnya performa industri ritel di Indonesia. Ia menyebutkan selama dua tahun tersebut (2016-2017) industri ritel di tanah air mengalami under perform karena berbagai hal, seperti melemahnya konsumsi serta melemahnya harga komoditas seperti CPO dan batu bara (marketing.co.id)

Berbagai macam teori dan pendapat lain juga mengemuka menyusul banyaknya ritel yang tutup. Seperti yang dikemukakan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Rhenald Kasali. Beliau menjelaskan ada tiga faktor yang membuat usaha ritel berguguran khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta. Pertama adalah akibat ketatnya persaingan industri bisnis ritel itu sendiri. Tak hanya persaingan sesama pelaku ritel lokal, namun juga dengan perusahaan ritel mancanegara yang sekarang bebas masuk. Kedua akibat kemunculan e-commerce yang meskipun pengaruhnya masih kecil secara nasional namun di kota besar diprediksi transaksi ritel online telah tumbuh di atas 20%. Faktor terakhir adalah menurunnya daya dukung komunitas di sekitaran tempat ritel itu berada (Kompas.com)

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics & Finance (INDEF), Bhima Yudhistira juga menyebutkan bahwa menurunnya performa ritel disebabkan oleh beberapa faktor seperti adanya fenomena Leisure Economy dan penurunan daya beli masyarakat (bbc.com).

Memang benar bahwa tutupnya gerai-gerai dari beberapa perusahaan besar tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh faktor eksternal tapi juga internal. Bisa jadi diakibatkan karena manajemen yang kurang baik, adanya praktik kejahatan dalam perusahaan, bahkan mungkin hanya karena sewa tempat yang sudah habis dan sengaja tidak diperpanjang oleh pihak perusahaan dengan berbagai pertimbangan. Hanya saja, jika kemudian di waktu yang hampir bersamaan-dalam rentang waktu yang tidak begitu jauh, terjadi penutupan gerai oleh beberapa perusahaan, maka ini menjadi sebuah fenomena yang perlu ditelisik lebih jauh.

Ini menjadi penting untuk diketahui. Sebab, di balik penutupan gerai sudah pasti akan ada pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan di sana. Bisa dibayangkan, semakin banyak dan besar gerai yang ditutup maka semakin banyak pula karyawan yang harus di PHK. Itu artinya, jumlah pengangguran akan semakin meningkat.

Bagaimana dengan Ritel dan Pasar Tradisional?

Di lain pihak, pikiran kita kemudian dibawa ke permasalahan selanjutnya. Jika ritel modern saja mulai berguguran, lantas bagaimana nasib eksistensi ritel tradisional yang secara teori kalah telak dibandingkan ritel modern? Adakah harapan bagi mereka untuk bisa bangkit dari keterpurukan?

Sebelum jauh melangkah ke sana, akan saya coba terangkan terlebih dahulu beberapa hal yang dari sana bisa kita lihat bagaimana kekurangan ritel tradisional hingga harus berjuang lebih keras untuk dapat bersaing dengan ritel modern yang semakin menjamur.

Saya kembali mengutip dari buku Manajemen Ritel yang ditulis Christina Whidya Utami (sekadar info, buku ini menjadi buku wajib dalam mata kuliah Manajemen Ritel yang saya ambil). Ada beberapa kekurangan atau kelemahan yang ada pada ritel tradisonal kita. Di antaranya, ritel tradisional kurang memperhatikan pemilihan lokasi, tidak memperhitungkan potensi pembeli, jenis barang dagangan tidak terarah, tidak ada seleksi merek, kurang memperhatikan pemasok, pencatatan penjualan sangat sederhana, keuntungan per produk tidak dievaluasi, melayani hutang, kurang memperhatikan efisiensi, arus kas tidak terencana, keuangan modal tercampur dengan keuangan keluarga/pribadi, dan pengembangan bisnis tidak terencana.

Saya juga coba menambah beberapa kekurangan tersebut seperti banyak pemilik usaha yang terjebak dalam tradisi berdagang yang monoton, tidak memperhatikan kenyamanan konsumen dalam berbelanja, kurang berinovasi, kurangnya modal, dan kemampuan akses dan pengoperasian internet yang kurang mumpuni.

Pasar tradisional sebagai tempat berkumpulnya banyak usaha ritel tradisional (baca: kios/ warung/kaki lima/dsb) sebagian yang ada justru seolah tak berdaya, terkurung dalam masalah yang pelik dan klasik serta masih monoton dalam menarik minat konsumen. Pasar yang kumuh, sumpek, bau, kotor, dan becek tampaknya masih menjadi positioning pasar tradisional kita. Seolah-olah jika Anda mau berbelanja sambil menikmati sensasi berdesak-desakan, udara yang pengap, bau tak sedap di mana-mana, dan tempat yang tak terurus, maka datanglah ke pasar tradisional.

Pengelolaan pasar tradisional saya kira sudah saatnya diperbaiki. Kita tak boleh memelihara citra dan budaya pasar yang kurang baik selama ini. Menjadi keliru jika kemudian ada pihak-pihak yang tidak mau merubah wajah pasar. Mereka mengganggap bahwa citra pasar selama ini adalah peninggalan nenek moyang, warisan yang harus dijaga, atau apapun alasan-alasan tidak rasional lainnya.

Pengelolaan semacam ini bukan saja hanya masalah infrastruktur fisik pasar seperti bangunan, namun juga unsur-unsur penting lainnya dalam menunjang aktivitas perdagangan. Para pelaku ritel tradisional harus terus dibina dan dibiasakan melakukan penyesuaian diri menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Salah satu hal sederhana yang bisa dilakukan para peritel tradisional adalah dengan memanfaatkan potensi internet khususnya media sosial yang sekarang berkembang pesat. Kebiasaan menunggu pelanggan yang datang ke toko atau warung, perlahan harus bisa diubah menjadi kebiasaan mencari pelanggan secara aktif. Tidak perlu modal banyak, penggunaan internet yang tepat akan mampu memberikan hasil yang cukup signifikan. Di tambah lagi, kini sudah terdapat banyak platform yang mewadahi itu semua, sebut saja Bukalapak, Tokopedia, Shoppe, Blibli, dan sebagainya. Atau bisa juga cukup melalui jejaring facebook, instagram, dan sebagainya. Hanya tinggal disesuaikan dengan kondisi yang ada.

Sedikit bercerita, beberapa waktu yang lalu, saya terkaget ketika ibu saya mengaku bahwa beliau kini membeli sayur secara online. Ya, sayur yang sudah siap dimakan. Saya tak terbayang akan hal itu. barangkali Anda juga. Setelah ditelisik lebih dalam, sebenarnya skema pembeliannya cukup sederhana namun bisa dicontoh oleh pedagang lainnya. Awalnya para pedagang meng-upload dagangan mereka apapun itu di status Facebook, instagram, atau story WA. Jika ada pembeli yang berminat, cukup menghubungi pedagang itu kembali. Selanjutnya, pembeli bisa mendatangi langsung penjual untuk mengambil apa yang dibeli. Keuntungan bagi pembeli adalah mereka tidak perlu menunggu waktu yang lama untuk antri, tidak akan kehabisan barang yang dicari, bisa melihat barang atau menu makanan tanpa harus datang terlebih dahulu ke tempat penjual, serta dapat menghemat waktu.

Sesuatu yang menarik juga masih terjadi. Ibu saya lebih senang berbelanja dengan cara demikian. Bahkan cenderung meningkatkan intensitas pembelian. Beberapa barang remeh temeh pun pernah dibeli seperti misalnya amplop. Ya benar, saya tidak sedang bercanda. Ibu saya membeli beberapa lembar amplop hias tanpa harus ke luar rumah, namun cukup membuka handphone, memilih motif amplop, memesannya, melakukan pembayaran, dan barang akan diantar ke rumah-kebetulan penjual memang berdomisili di daerah yang sama dengan kami. Pembayaran juga bisa dilakukan secara COD (cash on delivery).

Saya kemudian membayangkan lebih jauh. Jika hal-hal sederhana ini bisa menjangkiti lebih banyak pedagang tradisional lainnya, maka akan menjadi sebuah kemajuan pesat dalam metode pemasaran pedagang tradisional kita. Lebih-lebih jika semua informasi bisa terintegrasi dalam sebuah aplikasi atau platform khusus misalnya.

Bisa Anda bayangkan. Ketika Anda ingin membeli sesuatu di pasar, Anda cukup mencari barang yang dinginkan melalui handphone. Di sana Anda bisa sepuasnya mencari informasi barang, membandingkan harga, bahkan memungkinkan untuk melakukan penawaran langsung dengan pedagang. Setelah itu, Anda baru menuju pasar, lebih tepatnya menuju toko untuk mengambil barang yang sudah Anda pesan. Cara ini jauh lebih cepat, simpel, dan efisien. Anda tidak perlu lagi berputar-putar di pasar hanya untuk mencari satu barang saja, tidak perlu berlelah-lelah jika harus beralih dari satu toko ke toko lainnya demi bisa membandingkan harga, menghemat waktu, dan banyak keuntungan lainnya. Menarik, bukan?

Wajib Optimis

Asa agar ritel tradisional berkembang menjadi lebih baik tentu masih ada, terus ada, dan bahkan telah berjalan hingga sekarang ini. Berdasarkan literatur dan pengamatan yang saya lakukan, di beberapa daerah, ritel tradisional perlahan mulai menjelmakan diri mengikuti ritel modern dengan membuat toko berkonsep minimarket atau supermarket. Kenyamanan tempat belanja dengan display dan pencahayaan ruangan yang cukup, produk yang beragam, dan harga yang bersaing mulai menjadi fokus utama. Mereka juga tak mau kalah dengan ritel modern sehingga mereka juga memberikan penamaan atau brand pada toko mereka. Kemudian muncullah beragam brand yang kebanyakan berakhiran “Mart”.

Harapan kita tentu saja, baik itu ritel modern ataupun tradisional dapat bertahan dan semakin maju bahkan mampu bersaing secara global mengingat adanya potensi tersebut. Perubahan teknologi, gaya hidup, dan perubahan lainnya harus bisa diatasi dengan bijak dan dengan cara-cara yang dibenarkan. Persaingan sejatinya tidak selalu untuk saling menjatuhkan, namun juga bisa menjadi pelecut semangat untuk terus menjadi yang terhebat dalam persaingan yang sehat.

Lantas, apa yang bisa dilakukan pemuda, khususnya mahasiswa? Ah itu banyak caranya. Dalam hal ini, kita bisa berkontribusi untuk masyarakat sesuai kemampuan kita. Sebagai contoh, jika kita punya orang tua atau keluarga yang bergerak di usaha ritel tradisional, di sini kita bisa memberikan saran-saran agar usahanya semakin berkembang termasuk memperkenalkan internet. Adapun jika kita sendiri yang berniat membuka usaha ritel, maka buatlah usaha Anda selevel ritel modern dengan harga yang bersaing. Terus lakukan inovasi dan amati setiap perubahan yang terjadi di masyarakat. Atau jika kita punya kemampuan mengembangan aplikasi dan sejenisnya, mungkin kita ingin berbisnis Start-Up Teknologi, barangkali kita bisa membuat aplikasi yang bisa memudahkan transaksi para pedagang tradisional dengan konsep baru atau sebagaimana yang saya terangkan di atas tadi.

Lalu jika ternyata kita tak mampu melakukan semua itu, harus bagaimana? Ah, itu juga gampang. Kalau Anda punya kemampuan menulis, maka menulislah. Semoga tulisan Anda bisa menginspirasi orang banyak. Kalau Anda bisa membuat video, maka buatlah video. Dan apapun itu. Kuncinya kembali kepada niat dan kerja keras kita. Semoga dimudahkan ya.

0Shares
Muhammad Noor Fadillah

Menyelesaikan pendidikan S1 Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Memiliki ketertarikan di bidang manajemen, marketing, dan penulisan. Suka menulis berbagai hal. Mulai dari sastra, jurnalistik, ekonomi, bisnis, dan marketing. Telah menerbitkan 2 buku, 1 ebook, dan banyak tulisan lainnya yang tersebar di koran, media online, blog, dan platform lainnya.

Satu Komentar

  • Avatar
    Türk Ünlüler Seks Filmi Izi

    Bakkal evlisexhikayeleri,bakkal porno hikaye,bakkal sikiş hikaye,ev sahibi sex hikaye,evli seks hikaye,evli porno hikaye,yıldönümü sex hikayeleri,azgın sex hikayeleri,
    hamamda sikiş,evli sikiş sex hikayesi 18+
    evlisexhikayeleri Videoları Online sitemiz üzerinden kaliteli
    olarak hd ücretsiz tek part DVD 720p Formatında izleyebilirsiniz.

    Powered by Blog.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *