Ubah Kekurangan Menjadi Kelebihan

sumber gambar : franchise-expo.co.id

Di suatu kelas mata kuliah manajemen strategik, dosen saya pernah memberikan penjelasan mengenai tips agar lolos seleksi wawancara kerja. Hal itu berangkat dari banyak pengalaman beliau yang dulu juga seringkali ditolak banyak perusahaan akibat gagal di tes wawancara, hingga kemudian kini beliau justru beberapa kali menjadi orang yang mewawancarai calon pekerja. Salah satu tips yang beliau bocorkan adalah penggunaan diksi atau pilihan kata yang tepat agar kekurangan dalam diri kita justru bisa terlihat menjadi kelebihan di mata orang lain. Waw, tentu menjadi sebuah tips yang sangat berharga.

Beliau mencontohkan. Jika ditanya mengenai apa kekurangan yang ada dalam diri kita, dan kemudian semisal dijawab bahwa kekurangan itu adalah suka begadang atau sulit tidur sehingga harus mencari aktivitas agar bisa tertidur, maka hal ini bisa dimanfaatkan. Kebanyakan orang menganggap hal ini (begadang/sulit tidur) sebagai kekurangan bagi seorang karyawan karena kemungkinan akan terlambat bangun pagi dan masuk kantor.

Sebenarnya kekurangan tadi itu bisa diubah pernyataannya menjadi “Kekurangan saya adalah saya sering bekerja hingga larut malam.” Yups, itulah jawaban terbaik jika kita sedang dalam wawancara kerja. Kata “begadang” di sini dialihkan menjadi “bekerja atau beraktivitas hingga larut malam”. Secara makna, hal itu sama saja, yakni sulit tidur malam. Hanya saja, ketika kalimat tersebut dilontarkan, orang lain tidak berfikiran bahwa kita memiliki kekurangan, melainkan justru kelebihan karena itu artinya kita adalah orang yang giat bekerja (bahkan hingga larut malam).

Itulah gambaran singkatnya. Saya sendiri baru tahu akan hal tersebut. Menurut dosen saya juga, maish banyak hal lainnya yang bisa disiasati dengan cara tersebut. Tentu juga diiringi dengan perubahan mindset yang bersangkutan bahwa memang kekurangan bisa dimanfaatkan menjadi kelebihan.

Cerita di atas sebenarnya lumayan mirip ketika saya datang ke sebuah tempat laundry untuk mengantar pakaian. Usaha itu bukanlah usaha besar yang punya brand terkenal. Hanya menempati sebuah toko kecil di depan sebuah rumah berpagar.

Ketika saya menyerahkan sekantong pakaian, dengan wajah yang agak “masam”, pekerja tersebut (saya kurang tahu pasti apakah ia hanya sebatas pekerja atau pemilik usaha. Tapi di sini saya posisikan sebagai pekerja saja) berkata “Selesainya tiga hari ya mas.” Saya cukup terkejut juga, karena biasanya selesai dalam satu hari satu malam saja. Ia kemudian berusaha menjawab kebingungan saya dengan memberikan penjelasan bahwa usahanya sedang banyak orderan sehingga waktu pengerjaan menjadi lama. Tangannya menunjuk ke arah tumpukan pakaian yang menggunung.

Menjadi hal yang agak risih, ketika ia menerima saya (pelanggan) dengan wajah yang tidak bersemangat dan nada suara yang terkesan mengeluh. Seolah-olah dalam fikirannya, banyaknya orderan dari pelanggan akan semakin menambah beban kerjanya.

Bagi saya, merupakan suatu kesalahan yang telah dilakukan pekerja tersebut. Bagaimana tidak, banyaknya orderan harusnya menjadi kabar yang menggembirakan. Mengapa demikian? Pertama, itu mengindikasikan bahwa usaha laundry tersebut dipercaya orang di tengah banyaknya usaha laundry yang serupa. Usaha jasa memang memerlukan kepercayaan (believe) dari pelanggan. Sebagian orang tidak dengan mudahnya memberikan kepercayaan mereka kepada penyedia jasa. Oleh karena itu kepercayaan yang sudah didapat harus bisa dipertahankan oleh pelaku usaha.

Kedua, dari sisi profit. Semakin banyak orang yang mau menggunakan jasa laundry tersebut, tentu akan semakin menambah pundi-pundi keuntungan. Dan profit atau keuntungan atau laba adalah tujuan utama sebuah bisnis didirikan. Tentu tidak ada orang yang mau rugi.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan orang tersebut? jawabannya hampir sama seperti tips yang diberikan dosen saya tadi. Ya, ubah kekurangan menjadi kelebihan dengan pilihan kata yang tepat. Harusnya pihak laundry tadi tampil dengan santai dan mantap sambil berkata, “Terima kasih sudah memakai jasa kami. Tapi kami mohon maaf ya Mas, untuk kali ini waktu pengerjaannya tiga hari, karena ‘Alhamdulillah’ usaha kami sedang banyak dapat orderan ya Mas.”

Kurang lebih begitu versi saya. Tentu jawabannya tidak harus persis seperti demikian. Pemilik usaha bisa menggunakan pilihan kata lainnya. Yang perlu ditekankan bahwa kekurangan harus ditampilkan sebagai sebuah kelebihan.

Dalam kalimat yang saya sarankan, saya berusaha menanamkan kepercayaan kepada pelanggan bahwa usaha laundry tersebut mendapat banyak orderan. Sehingga diharapkan, pelanggan memiliki anggapan bahwa usaha laundry tersebut juga dipercaya banyak orang lainnya.

“Lalu, apa alasan untuk tidak datang kembali dan membawa sekantong pakaian kotor yang akan kami cuci di tempat kami yang sudah dipercaya banyak orang?”. Salam hangat dari pekerja laundry.

Indah bukan?

0Shares
Muhammad Noor Fadillah

Menyelesaikan pendidikan S1 Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Memiliki ketertarikan di bidang manajemen, marketing, dan penulisan. Suka menulis berbagai hal. Mulai dari sastra, jurnalistik, ekonomi, bisnis, dan marketing. Telah menerbitkan 2 buku, 1 ebook, dan banyak tulisan lainnya yang tersebar di koran, media online, blog, dan platform lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *